Pencarian

H. Zulkifli Imam Said

A\'a Gym

Jefri Al-Buchari

KH. Zainuddin Mz

Jumlah Kunjungan

H. Zulhendri, Zk Is

M. Arifin Ilham

Info Terbaru

PERASAAN KASIH SAYANG

Oleh: H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah swt dalam Qs. Maryam: 96

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا

 

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”( Qs. Maryam: 96)

Manusia yang beriman atau tidak beriman pasti merasakan ada kekuatan di luar dirinya yang tidak bisa ditentangnya. Manusia ingin senantiasa sehat dan kuat. Manusia tidak akan bisa mempertahankan kekuatan dan kesehatan serta kemudaannya itu, dia telah dimasukkan ke dalam satu sistim yang mesti dijalaninya, suka maupun tidak suka. Orang yang beriman yakin bahwa kekuatan tersebut adalah kekuatan Allah swt. Karena itu, orang yang beriman tidak mau menentang aturan Allah swt, sedapat mungkin dengan segala kekuatan yang ada berusaha mematuhi segala aturan itu, seperti dikatakan “Barang siapa yang mengerjakan kebaikan, baik laki-laki maupun perempuan dengan rasa beriman, pasti akan kami berikan kehidupan yang baik dan kami balas kebaikan tersebut dengan yang lebih baik”. Siapa yang tidak menginginkan kehidupan yang lebih baik ?, malah kalau diperhatikan segala aktifitas yang dilakukan manusia di atas dunia ini, ujung-ujungnya selalu ingin kebaikan. Kenapa manusia tidak takut menghadang lautan yang ganas, karena harapan mereka, di laut yang ganas tersebut tersimpan rezeki yang akan membuat hidup bahagia dan senang. Petani, pedagang, apapun corak aktifitasnya selalu berorientasi atau bertujuan untuk kebahagiaan, orang beriman harus mengerti betul tentang itu. Harus kerja keras, harus banting tulang, tapi apa yang dilakukan itu harus dengan tujuan yang jelas yaitu mencari keredhaan Allah swt. Prestasi itu tidak bernilai malah bisa mencelakakan. Banyak telihat keberhasilan si ayah tidak akan menjadikan anaknya lebih baik, malah tidak jarang menjadikan anaknya sengsara, tatkala ayah berhasil, semua angota keluarga diajar hidup mewah, yang tidak perlu telah menjadi kebutuhan pokok. Kendaraan mewah berderet-deret, setiap anak dikasih fasilitas kendaraan mewah dan tidak jarang pula, kendaraan tersebutlah yang membuat anak celaka, hancur masa depannya, berguling-guling kendaraan tersebut masuk jurang, malah ada yang sampai merenggut nyawa.

Orang beriman sangat takut hidup bermewah-mewah karena tidak jarang di balik kemewahan itu tersimpan kehancuran yang sangat mengerikan . Ya Allah, tancapkanlah keimanan itu di lubuk hati kami yang paling dalam dan jangan lepaskan lagi ya Allah.

PELIHARALAH DIRIMU DAN AHLIMU

Oleh: H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah swt dalam Qs. At-Tahriim: 06

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ(6)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.". (Qs. At-Tahriim: 06)

 

Dalam ayat di atas Allah swt memerintahkan agar kita memelihara diri dan keluarga dari bahaya yang sangat mengerikan, baik bahaya dunia maupun bahaya akhirat. Sayangnya kebanyakan kita hanya bisa melahirkan tanpa bisa mendidik, seperti iklan yang tidak senonoh yang bertebaran di setiap harian. Iklan tersebut hanya menambah tenaga kebinatangan, malah yang lebih parah lagi, iklan tersebut di lakoni oleh seseorang yang berpakaian islami, seolah-olah Islam senantiasa menyemprotkan tenaga kebinatangan pada manusia. Orang yang punya hati-nurani pasti malu membaca iklan tersebut.

Islam tidak menentukan banyak atau sedikitnya anak, tapi Allah swt menyuruh memelihara dengan baik dan sempurna dan jangan disia-siakan. Sedari kecil tanamkankan keyakinan yang kuat “Aku rela bertuhan kepada Allah swt, Islam mengatur hidupku, Nabi Muhammad saw teladan hidupku”. Ini bukan kata-kata mutiara, ini adalah pernyataan. Ayah dan Ibu mempunyai kewajiban dan bertanggung-jawab mencontohkan kehidupan Islami pada anak-anaknya. Ayah dan Ibu harus terlebih dahulu berperilaku sholeh karena itu yang akan ditiru dan dicontoh oleh anak-anaknya. Ayah-Ibu harus meramaikan rumah dengan bacaan al-Qur’an dengan mengikut sertakan anak dan seluruh anggota keluarga. Didik anak dengan jujur, perhatikan jika mereka berbohong, beri semangat untuk menuntut ilmu dan jangan biarkan anak-anak membuang-buang waktu, bermalas-malasan, televisi boleh dikatakan musuh untuk anak-anak, kecuali sedikit sekali. Jangan biarkan anak membandel dan melawan, jangan jadikan kita alat permainannya. Kita boleh menjadi teman bermain anak, tapi tidak alat permainannya, bila salah dalam mendidik anak, maka akan fatal akibatnya.

Kami pernah menyaksikan ayah dan ibu takut pada anak-anaknya, ayah dan Ibunya tidak mampu mengatur anak-anaknya, malah dia yang diatur oleh anak-anaknya, bila kehendaknya tidak terpenuhi, dia mengamuk, memaksa ayah dan Ibunya memenuhi keinginannya, padahal keinginannya tersebut tidak pantas dan tidak sesuai dengan kemampuan Ayah atau Ibunya.

Al-Qur’an mengingatkan kita “Hati-hati kamu dengan anak-anakmu karena bisa jadi anakmu jadi musuhmu”. Na’uzubillahi min Zalik

MEMPERHATIKAN APA YANG DIBUAT

Oleh: H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah swt dalam Qs. Al-Hasyr: 18

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(18)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan". (Qs. Al-Hasyr: 18)

 

Allah swt selalu senantiasa mengingatkan tentang apa yang kita lakukan, karena apa yang dikerjakan tersebut, ada akibatnya dan sebaik-baik akibat adalah bagi mereka yang beriman lagi bertaqwa. Sifat ketaqwaan pada seseorang akan menjadikan dia sangat hati-hati dalam bertindak dan melakukan sesuatu. Dalam mengeluarkan ucapan, tidak asal ngomong, dalam berbuat, tidak sembarangan bertindak. Orang tua kita dahulu sering mengingatkan “Pikir dahulu pendapan, sesal kemudian tidak berguna”. Kalau dipikirkan terlebih dahulu sebelum dibuat, Insya Allah tidak akan menyesal dalam rangkaian hidup yang dilalui. Tidak ada yang lebih berat dari penjelasan, bagaimanpun penjelasan tidak ada gunanya, hanya sesuatu yang sangat menyakitkan. Dalam al-Qur’an Allah swt firmankan “Seandainya kamu tahu penjelasan orang yang telah meninggal dunia, tertunduk di hadapan tuhanNya, sambil berkata ya Tuhankami, kami telah melihat dan menyaksikan azab ini, kembalikanlah kami ke atas dunia, kami akan berbuat baik. Tangguhkanlah ajal kami agak sebentar niscaya kami akan menyedekahkan harta kami”. Banyak penyesalan yang Allah beritakan dalam al-Qur’an agar kita tidak menyesal di akhirat kelak.

Bila kita renungkan kehidupan ini, bukan lamanyalah yang menentukan tetapi isinya. Mungkin lebih berharga sebotol kecil obat peten daripada 10 (sepuluh) drom kosong yang tidak berisi. Manusia tentu lebih lagi, mungkin jauh lebih taat, lebih rajin remaja 20-an ketimbang situa yang telah bau tanah. Sebabnya tidak lain adalah karena remaja itu berisi sedangkan situa itu kosong melompong, karena itu isilah hidup ini dengan keimanan, kemanisan, ketaatan, pengabdian, kasih-sayang, keikhlasan, isi dengan yang lebih baik, hindari yang tidak berguna, duduk-duduk kosong, banting domino, merokok dan hal yang merugikan lainnya. Hidup hanya sekali, tidak pernah berlaku surut, tidak ada jam dan hari yang berulang. Senin hari ini bukan senin kemaren, jam 4 (empat) hari ini bukan jam empat yang kemaren dan bukan pula jam empat yang akan datang.

Ya Allah berilah kami hidayah untuk dapat menggunakan waktu sebaik-baiknya.

MAKAN ADALAH OBAT DAN PENYAKIT

Oleh: H. Zulkifli Imam Said

Hadits Nabi saw :

“Kami adalah satu kaum, tidaklah kami makan kecuali lapar dan berhenti makan sebelu kenyang” (Al-Hadits)

Kalau kita renungkan kepribadian Rasul saw yang mulia itu memang sangat sempurnalah beliau jadi teladan. Dari beribu-ribu teladan, beliau satu ini saja sulit kita mencontohi. Bila makan kita berusaha mencari makan yang paling enak. Bila makanan itu enak tak mungkin sedikit kita makan, mungkin tambah lagi dan tambah lagi akibatnya kekenyangan. Jika sekali-sekali kekenyangan mungkin tak apa-apa, bila sering kekenyangan pasti mengundang penyakit, mungkin salah satu penyebab turunnya kesehatan adalah makanan.

Di usia  yang sepantasnya segar bugar + usia 40 (empat puluhan) telah dihinggapi penyakit yang sangat menakutkan, kalau bisa kita mengamalkan pesan beliau ini, Insya Allah jelas kita sehat. Sayangnya kita tak mau melatih diri, mengamalkan pesan beliau ini, bila kita telah biasa makan secukupnya, Insya Allah perut tidak akan berat, pencernaan lain pun tidak terlalu berat. Ada manusia lantaran terbiasa makan banyak perut menjadi besar. Bila perut sudah besar mesti isinya banyak. Isi yang banyak inilah yang membuat bahaya besar.

Kita melihat ada orang tua karena sayang dengan anak, apa yang dimintanya selalu diberi akibatnya anak itu tumbuh subur dan kegemukan. Bila telah kegemukan malaspun bertambah, suka tiduran inipun akan mamacu kegemukan. Pada posisi seperti ini, sayang yang diberikan orang tua pada anaknya adalah sayang yang merusak, hendaknya sayang kita pada anak adalah sayang yang menguntungkan tidak sayang yang merugikan.

Jangan biasakan mereka manja, apa yang diminta diberi. Sepantasnya kita mulai mendidik mereka dengan menginagtkan hadis Nabi ini. Bahwa bila terus-terusan kekenyangan Nabi saw yang Mulia mengatakan kita bukanlah kaumnya. Allah lindungilah kami.

JANGAN TERCABUT AKARNYA

Oleh: H. Zulkifli Imam Said

Firman Allah swt Qs. Ibrahim (14): 24

 أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

Artinya : “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. (Qs. Ibrahim (14): 24)

Dalam ayat ini Allah swt umpamakan Islam itu ibarat pohon yang baik. Pohon yang baik adalah pohon yang akarnya menghujam ke bumi sedangkan dahannya menjulang ke langit, berbuah setiap masa dengan izin Allah swt, semua manusia sepakat bahwa itulah pohon yang baik. Dalam hal ini yang paling berpengaruh adalah akarnya, batang tidak akan bisa berdiri kokoh dan berbuah lebat bila akarnya rusak atau busuk. Perhatikanlah pohon yang merana itu pasti akarnya rusak, bila akarnya rusak ditebaspun pohon itu akan tetap hidup.

Bila kita bicara dalam Islam, akar sama dengan iman, bila imannya lemah, manusia tidak akan pernah memperlihatkan cara hidup orang beriman, tidak akan pernah melakukan ibadah dengan baik, syahadatnya sekedar ucapan lidah, shalatnya sekedar tampak oleh orang, zakat sangat berat mengeluarkannya, puasa langsung sakit mag, haji sekedar melancong malah ada yang lebih buruk dari itu. Tidak shalat, tidak puasa, tidak zakat, tidak haji, orang ini sangat mengerikan untuk didekati. Lebih mengerikan lagi orang ini dari segala makhluk ciptaan Allah swt.

Kita katakan harimau ganas, harimau hanya menangkap satu mangsa, manusia membunuh beribu-ribu manusia, manusianya cerdas, yang tidak ada padanya adalah rasa kasih sayang sehingga tidak segan-segan membunuh dan menganiaya teman, isteri, suami malah ayah dan bunda yang membesarkannya dihabisi, karena itu manusia mesti dikenalkan pada sang penciptanya, harus diingatkan bahwa dia tak bisa lepas dari segala perbuatannya, kejahatan yang dilakukannya akan kembali kepada sipelaku dalam bentuk yang lebih mengerikan dari apa yang telah diperbuat. Disinilah peranan dakwah dan seruan diperlukan. Ajaklah manusia menjadi orang baik, katakan kebaikannya tak pernah merugikan. Tanamkan kedalam lubuk hati yang paling dalam hidup bukan sampai disini, ada lagi kenikmatan yang harus direbut, adalagi malapetaka yang harsu dihindari. Semoga bermanfaat, Amin

IKHLAS SUATU KEMESTIAN

Firman Allah Qs. Al-Bayyinah (98) ayat 5

 

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya : “Tidak ada perintah kecuali supaya menyembah Allah dengan Ikhlas , dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus”. (Qs. Al-Bayyinah (98) ayat 5)

Ikhlas sering kita tulis, sering kita baca, sering kita dengar, sering diucapkan, moga-moga Allah swt beri kita kekuatan menjadikan ikhlas suatu kemestian atau keharusan hidup. Apa usaha mencapai Ikhlas itu? Kita harus membesarkan nilai pahala, bila kita sudah mempunyai cita-cita memburu pahala, ikhlas akan datang sendiri. Tidak sulit mencapai ikhlas bila hati telah ingin dan sangat menginginkan balasan Allah swt. Bila hati masih menginginkan balasan dan pandangan manusia, ikhlas tak akan pernah tercapai. Bila Allah swt saja yang diharapkan, otomatis ikhlas dan kebeningan amal akan terasa nikmat sekali. Al-Qur’an yang mulia menjelaskan sikap orang yang ikhlas “Sesungguhnya aku memberi makanmu hanya mengharapkan wajah Allah swt, Kami tidak mengharapkan darimu pujian dan terima kasih. Di ayat lain yang kira-kira artinya “Orang yang memberikan hartanya untuk mencapai tingkat kebaikan yang tinggi, tidak satupun yang diharapkan kecuali Allah swt yang Maha Mulia dan Maha Tinggi.

Setiap perbuatan harus ikhlas tanpa keikhlasan akan jadi penyesalan. Banyak orang yang melakukan kebaikan yang diujungnya penyesalan, karena tak dibalas, tak dihargai, tak di acuhkan, ada orang yang membantu dan saudaranya setelah yang dia dibantu itu sukses dan maju lupa membalas budi orang yang berbuat baik kepadanya, hingga orang yang berbuat baik itu menyesal dengan perbuatan baiknnya, hingga terlontar kata-kata seperti kacang lupa dengan kulitnya, seperti membuang air di pasir, seperti air di daun keladi, ucapan-ucapan ini tidak akan keluar, penyesalan tidak akan ada, bila melakukan sesuatu dengan ikhlas. Ikhlas bukan hanya untuk keuntungan akhirat saja, ikhlas juga merupakan nikmat saat ini. Alangkah nikmatnya hidup tanpa penyesalan dan tanpa mengumpat, tanpa mengharapkan terima kasih, hanya orang-orang ikhlas saja yang beruntung, mudah-mudahan kita termasuk ke dalam golongan ini.

BACALAH AL-QUR’AN DARI LUBUK HATI

Oleh: Z. Zulkifli Imam Said

Firman Allah Qs. Al-Baqarah(02) : 121

 الَّذِينَ ءَاتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

 

Artinya: “orang-orang yang telah Kami berikan Al kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. dan Barangsiapa yang ingkar kepadanya, Maka mereka Itulah orang-orang yang rugi.” (Qs. Al-Baqarah(02) : 121)

Dalam ayat ini Allah puji orang yang benar-benar membaca al-Qur’an. Siapa yang sebenar-benar membaca al-Qur’an. Mungkin saja membaca dengan tartil, membaca dengan berusaha memahami kandungannya, membaca dan mengimaninya, membaca dengan mengharapkan hidayah Allah swt, agar dapat hidup dengan al-Qur’an. Masih ada umat Islam membaca al-Qur’an sekedar mengharapkan pahala saja. Pahala membaca al-Qur’an sangat besar sekali, lebih lagi membaca al-Qur’an dalam keadaan berwudhu’, sebaiknya membaca al-Qur’an selain mengharapkan pahala dari Allah swt, ada lagi keuntungan kekinian yang bisa direbut dengan al-Qur’an. Tatkala kita berhasil, al-Qur’an mengingatkan agar kita jangan sombong dan angkuh. Tidak sombongpun kita, tatkala berhasil masih ada orang yang iri dengki, apalagi kalau sombong, tentu lebih banyak lagi orang yang benci atau iri dan dengki serta ingin menghancurdan dan membinasakan kita, jelas peringatan al-Qur’an itu menguntungkan kita.

Al-Qur’an menyuruh kita bersyukur karena dengan bersyukur akan terasa nikmat Allah swt. Kalau yang teringat penderitaan dan kesusahan, pasti kita jadi orang yang susah. Semestinya kita bahagia, lantaran tidak bersyukur, jadi susah. Al-Qur’an melarang kita mengingat-ingat pertolongan/ kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain yang tidak berterima kasih. Hal tersebut hanya akan menjadikan hati bertambah sakit/ pedih, lupakan saja segala kebaikan yang telah kita perbuat kepada orang lain tersebut, seolah-olah kita tidak pernah berbuat baik.

Bila kita tidak pernah berbuat baik, maka orang juga tidak akan pernah berbuat baik kepada kita, tentu hati kita akan teriris dan pilu ketika kita kita berbuat baik kepada seseorang sementara dia membalas dengan berbuat jahat kepada kita, mungkin kita kan kesal, terlontar kat-kata “air susu dibalas dengan air tuba” atau “seperti membesarkan anak ular” atau kata-kata umpatan lainnya.

Mari kita minta kekuatan kepada Allah swt, agar kita diberi al-Qur’an dalam diri kita, sehingga apapun masalah yang kita hadapi, al-Qur’an sebagai pembingkainya.